08th

Laptop, Hotspot dan Reproduksi Kelas

0

Oleh: Firdaus Putra A.

Malam ini saya sampai pada titik permenungan soal relasi antara laptop, hotspot dan reproduksi kelas sosial. Konteks renungan ini tentu saja bukan pada seluruh pemilik laptop dan pengakses hotspot dimanapun berada, melainkan pada konteks mahasiswa dan fasilitas kampus khususnya di Unsoed. Meski demikian, sampai batas tertentu saya kira tidak menutup kemungkinan untuk menarik ruang generalisasi pada kampus-kampus lainnya.

Sekitar satu tahun belakangan mahasiswa Unsoed yang memiliki laptop meningkat tajam paralel dengan tersedianya fasilitas publik berupa hotspot area. Sekarang ini, sebagian besar fakultas di Unsoed sudah menyediakan hotspot area yang bisa diakses secara bebas oleh mahasiswa. Frekuensi akses semakin banyak dan sering paralel dengan kebijakan hotspot area 24 jam nonstop dan ditambah beberapa kafe di sekitar Unsoed menyediakan fasilitas serupa. Saya belum mempunyai data yang pasti terkait tingkat pembelian laptop oleh mahasiswa Unsoed. Namun, salah satu notebook center tak jauh dari Unsoed lebih banyak menyediakan laptop dengan harga yang relatif terjangkau, 4-7 jutaan. Saya yakin penyediaan produk dengan kualifikasi dan harga tertentu itu melihat fakta bahwa mahasiswa sebagai salah satu pasar strategis.

Beberapa teman saya jumpai saat ini sudah melengkapi dirinya dengan laptop. Mulai dari yang berukuran 14” sampai ukuran mini 8”. Indikator lainnya secara kasat mata bisa kita lihat di kantin kampus dan gedung-gedung tertentu yang saban siang sampai malam dipenuhi oleh mahasiswa berlaptop. Termasuk di dalamnya saya sendiri yang senantiasa mengakses hotspot area kampus di Unsoed.

Pada titik demokratisasi informasi, tentu saja fenomena tersebut perlu kita apresiasi secara positif. Laptop dan hotspot membuat mahasiswa senantiasa bisa mengakses informasi kapan dan di manapun mereka berada. Selain itu, free hotspot area dengan sendirinya mempertinggi frekuensi aksesibilitas mereka terhadap source yang tak terbatas itu.

Pada sisi lain, fenomena demokratisasi informasi itu sayangnya tidak dibarengi dengan demokratisasi teknologi informasi berupa laptop. Saya kira dalam konteks demokratisasi sampai batas tertentu kesetaraan akses sudah bisa diwujudkan. Namun, tidak boleh kita lupakan bahwa kesetaraan akses tersebut masih bersifat potensial, belum aktual. Faktanya, meski saya tidak mempunyai data yang pasti, lebih besar jumlah mahasiswa tak berlaptop daripada yang berlaptop. Artinya, kesetaraan akses belum terdistribusi dengan merata.

Saya tidak akan memasuki perdebatan antara jumlah mahasiswa berlaptop dengan yang tak berlaptop, namun lebih akan menukik tajam pada masalah reproduksi kelas sosial pada ranah akademis. Tentu saja, ulasan ini akan lebih dekat ke arah Bourdieu-an daripada Marxian. Bourdieu dengan baik menjelaskan masalah habitus, ranah dan modal. Tiga anasir itu bertalikelindan dan saling berdialektika satu sama lain dan mendisposisi individu pada ranah tertentu.

Mari kita simak baik-baik ilustrasi berikut. Tanpa didasari data, saya bisa mengajukan fakta bahwa mahasiswa berlaptop berasal dari keluarga yang secara sosial-ekonomi relatif mapan. Sedikit menyederhanakan, mahasiswa berlaptop saya klasifikan pada kelas menengah-atas. Berbeda dengan itu, mahasiswa tak berlaptop cenderung dibesarkan di keluarga menengah-bawah. Pada titik ini, habitus mendisposisi mahasiswa dengan modal tertentu yakni modal ekonomi.

Aksesibilitas terhadap internet antara mahasiswa berlaptop dan tanpa laptop tentu saja lebih tinggi yang pertama. Dengan laptopnya (modal) membuat mereka mampu melipatgandakan modal yang lain dalam ranah tertentu. Misalkan, dengan semakin seringnya mahasiswa tersebut mengakses internet, maka ia menguasai, mengontrol dan bahkan mengendalikan informasi. Pada ranah ilmiah (kampus) tentu saja hal ini sangat signifikan mendukung aktivitas akademik mahasiswa bersangkutan. Informasi tak terbatas dari internet dapat ia akses paralel dengan tersedianya waktu luang, kenyamanan akses dan sebagainya dengan laptop dan fasilitas hotspot gratis.

Pada sisi lain, habitus mahasiswa tanpa laptop mereproduksi mahasiswa tersebut pada kelas sosial tertentu.. Kekurangan modal (ekonomi) tidak memaafkannya untuk memperoleh fasilitas gratis, justru sebaliknya ia harus membayarnya dalam bilik-bilik warnet kelas ekonomi yang kecil dan pengap. Sejurus dengan itu, frekuensi akses internet kalah jauh dibanding dengan mahasiswa berlaptop. Mahasiswa tanpa laptop harus secara sadar mengatur dan mengelola besaran biaya untuk mengakses internet di warnet berbanding dengan biaya makan, jajan, foto kopi materi dan kebutuhan lainnya.

Dalam konteks itu, pelipatgandaan modal simbolik-intelektual pada mahasiswa berlaptop dan tanpa laptop berjalan secara timpang. Tidak ada kesetaraan dalam hasil meskipun kesempatan untuk mengakses terbuka secara luas dan non-diskriminatif. Ujungnya, demokratisasi informasi tanpa dibarengi dengan demokratisasi penguasaan dan pemilikan teknologi informasi hanya akan mendaurulang siklus ketimpangan sosial yang sudah ada.

Analisis Bourdieu berada di antara tegangan kreatif agen-struktur yang ingin menolak keagenan yang luar biasa a la Weber dan determinisme struktural a la Durkheim dan Marx. Nah, saya kira dalam tegangan kreatif itu juga siklus daur ulang kelas sosial bisa diantarai dengan keagenan dan di sisi lain kebijakan struktural. Menurut hemat saya, dalam rangka menyeimbangkan perebutan modal/ kuasa simbolik-intelektual pada ranah akademis, mahasiswa tanpa laptop harus secara konsisten dan kontinyu mengakses perpustakaan kampus yang menyediakan source (buku) secara gratis. Hal ini tentu saja berangkat dari asumsi bahwa dewasa ini internet kompatibel dan sangat menunjang dunia pendidikan. Sehingga kekurangmampuan mengakses informasi melalui internet bisa dikejar dengan banyak membaca buku di perpustakaan.

Selain itu, pada level struktural, nampaknya perlu dirumuskan secara sistematis dan berkelanjutan agar setiap mahassiwa mempunyai laptop sebagai pra-syarat demokratisasi informasi. Hotspot bak kolam ikan yang dijejali jutaan bahkan milyaran bit-bit data, namun tanpa kail (laptop) kolam ikan hanya berhenti sebatas asesoris penghias halaman rumah (kampus). Kebijakan kepemilikan laptop—atau bisa juga dekstop dengan catatan didukung modem, LAN, dll—saya rasa bisa diusahakan dengan memungut sedikit biaya dari mahasiswa saat pertama kali masuk ke Unsoed. Sisanya, Unsoed bisa menggandeng vendor-vendor besar seperti Acer, Thosiba, Compaq, Dell, Sony dan lain sebagainya dalam kerangka corporat social responsibility (CSR).

Melalui dua pintu itu, keagenan dan kebijakan struktural, saya kira demokratisasi informasi dan teknologi informasi akan sangat mendukung dunia pendidikan dan membuat mahasiswa sebagian dari educated people yang pada gilirannya akan memperbesar volume masyarakat sipil di Indonesia. []

Jun 08th by firdaus
03rd

Hidup dalam Detail

0

Oleh: Firdaus Putra A.

I
Kita, manusia, cenderung berpikir dalam generalisasi. Padahal, kita hidup dalam setiap detail yang kecil, unik dan tersebar. Detail-detail mulai bangun tidur sampai tidur lagi itulah yang menyusun pola hidup kita. Dalam detail-detail itu pula ratusan bahkan ribuan tindakan kecil tersusun dan akhirnya membentuk suatu pola. Inilah kemudian yang bisa kita sebut sebagai gaya hidup, dalam maknanya yang paling luas.

Nah, dalam konteks seperti itu saya termasuk orang yang percaya bahwa tindakan-tindakan kecil itu sangat mempengaruhi perubahan dunia, sekurang-kurangnya kehidupan kita. Tindakan-tindakan kecil itu ibarat pasir yang menyusun istana di tepian pantai. Ia begitu riil dengan dampak yang riil pula.

II
Saya akan menyuguhkan beberapa ilustrasi dari detail hidup yang seringkali lewat begitu saja. Sebutlah kebersihan tempat hunian bersama dalam rupa kos atau kontrakan. Seberapa sering kita membersihkan kamar atau ruang pribadi? Lalu, seberapa sering kita membersihkan lorong kamar, dapur, ruang tamu, ruang tv, kamar mandi, tempat sampah, garasi dan sebagainya? Saya yakin frekuensinya lebih tinggi di kamar atau ruang pribadi, berbanding terbalik dengan ruang-ruang bersama yang saya sebut di atas. Tentu saja ini sangat manusiawi. Ya, manusia senantiasa menghendaki pemenuhan kenyamanan yang cukup bagi dirinya.

Berbeda dengan itu, ruang bersama nampak tidak berhubungan dengan dirinya, oleh karenanya derajat kenyamanan di ruang bersama tak menjadi prioritas. Ruang pribadi begitu bersih, rapi dan harum, sedang ruang bersama begitu kotor, penuh debu, jorok dan berbagai perlengkapan tak tertata rapi. Ketidakrapihan dan kejorokan itu menjadi-jadi dengan tiadanya jadwal piket yang mendisposisi setiap individu untuk bergilir menyapu, membersihkan dan merapihkannya.

Ada pemandangan yang kontras di sana. Ruang pribadi lebih diprioritaskan daripada ruang bersama. Saya merasa hal ini berangkat dari anggapan bahwa ruang bersama tak berhubungan dengan ruang pribadi. Menurut saya anggapan semacam ini kurang berasalan. Coba perhatikan, setiap hari kita melalui ruang bersama. Atau dalam hal lain, saban hari kita beraktivitas dengan atau dalam ruang bersama. Sehingga secara langsung ruang bersama berdampak pada ruang pribadi kita, misal debu terbawa masuk ke ruang pribadi melalui kaki serta pakaian kita. Kebersihan ruang pribadi akan sangat bergantung dengan kebersihan ruang bersama. Sesering apapun kita membersihkan ruang pribadi akan sia-sia bilamana ruang bersama tetap saja penuh dengan sampah, debu dan berbagai kotoran lainnya.

Hal semacam ini seringkali tidak masuk dalam proses berpikir kita. Kita sangat mafhum dengan generalisasi “Kebersihan pangkal kesehatan” atau “Kebersihan sebagian dari iman”, namun kita tidak mampu merealisasikannya dalam detail kehidupan. Ironisnya, disadari atau tidak, sebenarnya masing-masing kita merasa senang saat ada individu lain merelakan dirinya membersihkan ruang bersama. Ya, kita begitu menikmati dampak dari tindakan orang lain dan anehnya sebagian di antara kita tak mau mengadaptasinya, mencontohnya atau sekurang-kurangnya, mencobanya. Sebagian diri kita masih menyimpan mentalitas pecundang dan parasistik yang menggantungkan dirinya kepada yang lain.

Padahal, untuk melakukan tindakan seperti itu tidak dibutuhkan energi yang besar atau waktu yang panjang. Cukup dengan sekian menit saja kita bisa melakukan tindakan yang bermakna dan bermanfaat bagi diri kita dan secara tak langsung bagi yang lain. Misal, secara spontan mengambil sampah yang tercecer dan memasukkannya ke tempatnya. Menguras air di bak mandi saat terlihat keruh. Menyikat dinding kamar mandi saat terlihat kotor penuh dengan bercak dan lendir. Menyapu lorong kamar dan merapihkan berbagai barang di ruang tamu. Saya yakin tindakan-tindakan kecil seperti ini tidak akan mengganggu “aktivitas besar” kita.

III
Lantas mengapa nampak sulit untuk dilakukan? Apakah kita terlalu sibuk dan tak punya waktu luang atau karena faktor lain? Saya tidak melihat faktor kesibukan menjadi salah satu alasan. Toh buktinya sebagian kita bisa mengalokasikan waktu lebih dari lima jam untuk bermain play station, nonton tv dan pacaran, bukan?

Tesis di awal tulisan merupakan salah satu sebabnya, hidup dalam detail namun cenderung berpikir dengan generalisasi. Selain itu, saya fikir sebagian di antara kita miskin inisiatif. Misal, ceceran sampah yang tak terjamah beberapa hari menunjukan bahwa kapasitas untuk mengambil keputusan—yakni membuangnya—sangat rendah. Saat melihat cecerah sampah, sebenarnya kita tidak nyaman atau tidak sreg. Namun sayangnya, input itu tidak diolah lebih lanjut sehingga menjadi tindakan.

Hal lainnya, saya fikir sebagian di antara kita termasuk pemalas. Malas karena memang tak peduli yang menurut saya benar-benar seorang pecundang atau malas karena tak ingin merepoti diri sendiri yang menurut saya adalah seorang egois. Sampai-sampai bisa saja terjadi sebagian di antara kita ada yang sama sekali belum pernah mengepel lantai kos atau kontrakan, menguras dan membersikahkan bak mandi, membuang ceceran sampah dan sebagainya. Orang seperti ini saya golongkan sebagai parasit yang memuakkan.

Sampai hari ini saya tak habis fikir dengan perilaku seseorang (baca: mahasiswa) yang seperti itu. Ya, hanya dengan lima menit dan tak lebih dari ribuan kalori kita bisa membenahi tempat tinggal dan lingkungan sekitar, namun itu tak pernah terjadi. Berbuatlah walau sekecil apapun itu! Bagaimana dengan Anda?[]

May 03rd by firdaus
03rd

Warteg depan FISIP

0

Oleh: Firdaus Putra A.

Warung itu terletak tepat di depan kampus FISIP UNSOED. Dari tahun 1993 secara fisik tidak banyak mengalami perubahan. Masih sama, dinding penuh tempelan pamflet. Kayu yang lusuh. Atap bagian dalam yang juga tak putih terang.

Untuk sebagian orang warung itu sekedar tempat makan, ngopi dan nongkrong. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai ruang publik nan mencerahkan. Warteg depan FISIP tercatat sebagai saksi hidup dinamika gerakan mahasiswa, aktivis LSM, pegiat komunitas indie, band indie, aktivis parpol, wartawan di Purwokerto. Dari sana juga berbagai gagasan dan aksi perubahan lahir. Di lain sisi, sudah tak terbilang puluhan aktivis, anggota dewan, wartawan dan seterusnya juga lahir dari sana.

Warung itu bukan sekedar warung makan. Ia, warteg, sudah menjadi ruang publik, ruang milik bersama yang mempertemukan berbagai komunitas di Purwokerto. Ia, warteg, telah melibas batas-batas yang ada. Ia, warteg, juga telah melampaui generasi.

Hari Jum’at malam (24/4) warteg depan FISIP dipenuhi ratusan orang dari berbagai latar belakang dan usia. Mereka berkumpul dengan satu titik simpul: warteg merupakan ruang bersejarah. Sehari sebelumnya pesan singkat dikirim secara berantai. “Wartegku, Wartegmu, Warteg Kita Semua. Malam terakhir sebelum warteg ditutup untuk selamanya. Hadiri, besok Jumat jam 7 malam di warteg depan FISIP. Forward ke yang lainnya”. SMS itu menggerakan mereka bersama kenangan yang tersisa.

Generasi mahasiswa 1995-1998, yang sekarang sudah menjadi aktivis di berbagai lembaga, memberikan testimoni. Kilas balik berlangsung penuh romantisme. Disusul sajian musik yang spontan disumbangkan para hadirin. Juga ada pembacaan puisi dari teman di luar kota yang mengirimkannya melalui email dan SMS. Pak Slamet, pengelola warteg saat itu, turut serta dengan menyanyikan tembang “Genjer-genjer”. Tak ketinggalan orasi budaya memanaskan suasana haru.

Malam itu merupakan malam terakhir. Otoritas UNSOED mempunyai rencana lain dengan warteg yang berdiri di atas tanahnya. Warteg digusur dan kemudian akan dibangun sebuah rumah transit memanjang ke belakang. Otoritas itu secara nyata sudah meluluhlantakan kenangan dan rekam sejarah sosial-budaya mahasiswa dan alumni.

Makna, kenangan, sejarah dan sebagainya nampak tak berarti. Pembangunan harus dilaksanakan. Atas nama pendidikan, “ruang pendidikan” itu digusur. Hal seperti ini juga yang berlangsung pada alun-alun Kota Purwokerto. Atas nama keindahan dan pembangunan, alun-alun Kota Purwokerto yang merupakan situs budaya dipugar Bupati Mardjoko. Nilai material mengalahkan yang immaterial. Melalui otoritas, nilai itu ditundukan dan dicabut hak adanya.

Orasi budaya terus berlanjut hingga larut. Budi, alumni dan aktivis teater menulis, “Kita cuma mahasiswa | Kita cuma alumni/DO | Kita cuma wartawan | Kita cuma anggota dewan | Kita cuma dosen | Kita cuma buruh jadi, ayo pada tertawa melihat “yang tidak penting” digusur!”. Disambut kemudian Taqi, aktivis mahasiswa, meluapkan kegelisahan yang sama. Akhirnya Asta sebagai MC memanggil generasi 1995-98an, “Monggo Mas Zuli (Anggota DPRD), Kang Jarot (budayawan), Mba Aan (Ketua KPUD Banyumas), Gus Dur (Pemred Suara Merdeka), Kang Sigit (wartawan Suara Merdeka), Kang Febri (aktivis partai), Kang Helmi (wartawan), Kang Darbe (wartawan), Kang Timbul (aktivis partai), Kang Sendy (dosen FISIP), Kang Bedor (aktivis LSM), Mas Udin (aktivis LSM), Kang Ozi (aktivis partai)dan lainnya harap maju ke depan dan menanggapi pertanyaan tadi”.

Gus Dur menjelaskan apa-apa yang perlu dilakukan. Ia berujar, “Kita harus mengambil sikap. Sebagai awalan perlu dilakukan investigasi alasan penggusuran warteg. Kemudian tetapkan strategi apakah bertahan atau melakukan negosiasi dengan rektorat. Tidak lupa, kita harus mengusahakan agar Pak Slamet bisa masuk ke kampus FISIP dan melanjutkan usahanya”. Kang Jarot menyambungnya dengan panjang-lebar. Kemudian Mas Zuli yang merupakan anggota dewan menyatakan bahwa, “Ini (warteg) merupakan bagian terkecil yang harus dipertahankan”.

Di penghujung acara, lantunan lagu Iwan Fals yang dinyanyikan Kang Sendy kembali mengobarkan semangat. Beberapa puisi disumbangkan oleh Tino, Dimas dan Iskandar. Kemudian sebagai penutup, mewakili seluruh hadirin saya menyerahkan bantuan dana ke Pak Slamet hasil dari penggalangan dana pada malam itu.

Sabtu sore (25/4) dan sampai detik ini saya tak melihat pintu warteg terbuka kembali. Ia berdiri tahun 1993 dan berakhir April 2009. []

May 03rd by firdaus