06th

Journal 35 Days KKN POSDAYA DESA KASIH

Ditulis Oleh : Jajang Yanuar Habib

(1st Day)

KKN Posdaya Unsoed semester genap ini dilaksanakan sejak hari ini, 27 Januari 2009. Kelompok kami, kelompok Desa Kasih terdiri 10 orang dan berasal dari 10 jurusan kuliah berbeda.

Levana Rismayanti, jurusan Farmasi

Ria Novita Rini, jurusan Keperawatan

Ulfa Indah Laela Rahmah, jurusan Peternakan

Nindri Muliawati, jurusan Sastra Inggris

Nur Amaliah, jurusan Pertanian

Afif Amrullah, jurusan Perikanan dan Kelautan

Alven Suri Zain, jurusan Hukum

Dony Hananto, jurusan Manajemen

B. Aji Prakoso, jurusan Sosiologi

Jajang Yanuar Habib, jurusan Ekonomi Pembangunan

Kita saling ngenal sejak pengelompokan peserta KKN yang diinformasikan LPM kurang lebih tujuh hari sebelum pemberangkatan. Berbekal nomor handphone yang terlampir, saat pembekalan kedua terakhir, baru kami semua kumpul utuh.

Dengan latar belakang, kemampuan, sifat, karakter, dan pengalaman berbeda, jadi satu kelompok akan mengerjakan KKN POSDAYA.

POSDAYA sendiri merupakan tema program KKN yang dibentuk Unsoed. Katanya original trade mark Unsoed lah, cieeee….

Pos Pemberdayaan Keluarga (POSDAYA). Perpanjangan tangan dari Posyandu, tetapi perpanjangan ini mengambil induk menjadi anak. Artinya…. sodara-sodara!!! Begini, posdaya meng-atasi posyandu karena selain posyandu, ada bidang lain yang ntarnya jadi spesifikasi garapan dalam posdaya. Yaitu, antara lain : bidang ekonomi produktif, bidang pendidikan, bidang kelestarian lingkungan.

Pernah disampaikan ketua LPM Unsoed dalam simposium nasional kurikulum KKN ato ap gituuu, saya sih dengernya waktu pembekalan KKN, dari ketuanya sendiri, Ir. Sukardi. Nah, tema KKN ini menimbulkan ketertarikan dari universitas lain, terutama UGM yang akan berguru kepada Unsoed mengenai konsep KKN Posdaya.

Okeh sodara-sodara yang berbahagia, gini pengalaman saya mengikuti KKN. Selamat menikmati…

Saya udah terlambat, jam 8 pagi suasana di lokasi pemberangkatan KKN udah sepi. Beberapa pasang mata dari sekelompok mahasiswa yang berselendangkan jas almamater memagari leluasa pandangan mencari kawan sekelompok, POS DESA KASIH KERTANEGARA PURBALINGGA.

Sebelumnya Kormades nelpon, suaranya ga jelas. Ya sudah, ponsel gak saya terima lagi.

Pangkal ceritanya kira-kira gitu, akhirnya saya berangkat saja naik angkot nyampe terminal. Trus pake mikro bis Purwokerto-Bobotsari bayar sepuluh ribu. Di terminal Purbalingga over bis. Nyesek deh sama ibu-ibu yang pulang dari pasar, bawa barang bawaan bejibun kantongan ditumpuk.

Hwalah… celaka dua belas!!!

Sampai Kertanegara, jam sepuluh lewat. Habis makan bakso, langsung saya jalan kaki menuju kecamatan. Pas banget ketemu teman-teman sekelompok dalam bis rombongan. Acara penerimaan di kecamatan sudah selesai, rombongan hendak menuju kantor desa Kasih.

Penyambutan di balai desa berlangsung beberapa menit. Karena sewaktu survei tiga hari yang lalu, perkenalan kelompok kepada perangkat desa dianggap rampung. Kami melanjutkan menuju rumah Pak Carik, yang rumahnya itu dipilih menjadi Posko KKN. Jalan kaki ke sana dari balai desa makan waktu lima menitan.

Sampai siang gak ada yang dikerjakan. Setelah makan semuanya pada tiduran. Saya tidur di sofa ruang depan. Kecuali Alven yang sejak pagi tadi nemenin Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Pak Herry.

Pukul 15:15.

Saya terperanjat. Denger orang yang manggil, suaranya keras dan gak asing, kayaknya pernah denger… Setengah sadar otak saya ngasih impuls data….. “Jrii…iit Pak Herry!!!!”

Sontak saya teh pake almamater. Sambil gucek-gucek mata, saya sambut dengan senyum terbaik. Tapi cuma dibales nyengir…

Hualah biarin… lucu kali ngeliat gelagat konyol orang bangun tidur ketemu pejabat. Huahuahua…..

Cieee.. penyerahan anak-anak ayam sama indungnya ke tuan rumah berlangsung sebentar karena Pak Herry tergesa dan malah terlihat buru-buru cabut biar gak keujanan. Hiks…hiks gag ada sedih sama sekali, cuma kerasa kayak anak malang aja liat muka-muka dari menara gading dilepas di hutan belantara. “Ckckckckck kasian..”

Sampe malem kerjaan kita kosong. Paling waktu sorenya kita sempet ngecat tampah buat plang yang biasanya ditempel di pinggir jalan buat nunjukkin Posko.

Malemnya bisa disebut kerjaan ato nggak, ngobrol sampe jam sebelas. Tapi lumayan, deskripsi data awal.

Beberapa percakapan dengan perangkat desa cukup menarik. Sebab, penggalian potensi permasalahan tidak menyimpulkan tanda tanya. Perangkat desa belum bisa menyebutkan kendala di Kasih, yang kebanyakan profesi warganya petani. (23:00 – 00:03)

(2nd Day)

Rabu pagi ngelanjutin ngecat plang KKN.

Pukul 10 kita mulai berjalanan kaki menuju balai desa. Rencananya showan ke pemuka-pemuka desa, rumah Kades, 4 Kadus, dan beberapa RT.

Tiba di balai desa, seperti biasa, kita disambut sapa hangat. Pak Hadirun, Kaur Pembangunan Desa Kasih yang berbadan kurus hitam, memanggil saya masuk ke ruang sekdes. “Iki bako e..”

Lha, dia nyodorin satu bungkus rokok Dji Sam Soe kretek.

Pak Martono, Kadus 2 yang rambutnya cepak itu, juga tertawa. Tepatnya menertawakan sesuatu yang belum saya mengerti.

Tapi dari beberapa percakapan selanjutnya, baru saya ngeh. Informasi tentang anak KKN yang jemur bako, hanya dalam beberapa jam di pagi hari bisa cepet nyebar.

Saya tuh lagi gak punya duit, trus dikasi bako Matahari yang hitam sama Bu Sis, istri Pak Carik Karsono, katanya sisa Mbahnya. Hahaha…

Saya terima aja tawaran rokok Pak Hadirun..

Saking cairnya pembicaraan, obrolan pun gak berhenti sekedar basa-basi. Malah seperti reportase. Perspektif elit tentang kondisi wilayah pemerintahannya pun diketahui.

Rata-rata nafkah harian warga desa utamanya dari pertanian. Hasil dalam satu tahun yang hanya bisa dipanen tiga kali, pendapatan bersihnya kurang lebih satu juta dua ratus ribuan. Selama empat bulan itu, pendapatan petani mengandalkan kerja istri, usaha sambilan dan beberapa keuntungan hasil kebon jika musim buah, dan beberapa ternak di belakang rumah.

Dari main income, rata-rata pendapatan per bulannya berarti tiga ratus ribu. Nah kalo per harinya, berarti cuma sepuluh ribu perak. Cukup sejahterakah dengan pendapatan sebesar ini?

Pembicaraan semakin alot, sampai terdengar adzan dhuhur saya masih ingin mencari permasalahan atau kendala, dari upaya pembangunan yang tengah berjalan sejak 2002, pasca pemekaran Kecamatan Kertanegara dari kecamatan sebelumnya, Karanganyar.

Pak Karsono, Sekdes, yang rumahnya saat ini ketempatan mahasiswa, turut menimpali.

Kalo pake hitung-hitungan ekonomi atau anak sekolahan, hidup ini gak mungkin sukses. Saya sendiri pun merasa gumun..”

Sutomo, Kaur Keuangan menimpali cepat. “Lha, saya juga heran. Coba sekarang mas.. aku baen bisa membiayai sekolah anak, mbangun umah. Sekang tani thok..”

…. Saya diem ….

Pak Cipto menetralisir keadaan. “Mungkin karena penghasilan di belakangnya itu, Mas.”

Oh iya, kadang juga kan musim panen buah seperti dukuh, manggis kaya kuwe saiki. Satu juta olih..” Timpal Sekdes memperjelas lontaran Pak Cipto.

Hmmm…yah…barangkali dari warisan kali, Pak. Tidak terhitung mana harta kepala keluarga, jenat Mbah, dan pemberian mertua??” Saya timpali begitu dengan gaya datar.

Giliran mereka yang diem. Hehehe kena tuh…

Saya gak ngelanjutin pembicaraan lagi.

Temen-temen di ruang depan, yang obrolannya dengan Pak Kades Sarno dirasa cukup juga ngajakin keliling desa. Akhirnya kita memutuskan keliling jalan Kebon Dalem sampai Lampegan ke rumah Sekdes, Posko KKN.

Huahuahua dasar norak. Kita foto-foto narsis sepanjang jalan dengan kebun jagung yang sudah mencapai usia tua.

Musim panen jagung sudah beberapa minggu ini kurang mengenakkan warga. Harganya turun. Dari yang biasa terjual dua ribu tiga ratus sampai dua ribu lima ratus, kini hanya terjual dengan harga pasaran seribu lima ratus.

Anjlok. Petani jagung menimbun sementara. Beberapa badan jalan sepanjang yang kami lalui dijadikan areal penjemuran. Pengeringan jagung merupakan inisiatif petani, yang hendak menjualnya bulan depan. Penimbunan itu kata orang-orang, berdasar kesepakatan kelompok tani. Tentu para petani pemilik lahan, bukan penggarapnya bro….

Jalan rumput yang membelah area pertanian, ujungnya ternyata keluar dari pertigaan SD Kasih 1. Kami berhenti di depannya.

Hujan sore hari mengguyur deras. Tidak ada yang bisa dilakukan. Semua berdiam diri di Posko. Begitupun malamnya, hujan tak kunjung mereda, kami mengisi waktu dengan penentuan teknis pelaksanaan.

(3rd Day)

Di hari ketiga belum ada keputusan untuk menurunkan konsep kegiatan menjadi teknis pengaplikasian. Jam 10 pagi hanya keliling-keliling desa lagi. Sebelum dhuhur, saya bertemu Mas Andi, penyuluh perikanan dari kecamatan. Barangkali buat selanjutnya kami butuh bantuan dia jadi penyuluh teknis pembesaran lele.

Jam 10 ke balai desa gara-garanya gak ada yang percaya kalo undangan Musdes itu jam 2. karna gak ada yang perlu dikerjakan, kita pun pulang ke Posko melalui jalan Kebon Dalem, melewati jalan pintas yang bener. Gak kayak kemaren kesasar-kesasar…

Hehe..orang sama-sama pendatang, wajar lah nyasar.

Jam 2 mengikuti kegiatan Musdes membahas PNPM mandiri. Cuaca sepertinya tidak bersahabat. Namun sebelum kami berangkat, hujan reda sampai kami tiba di balai desa. Kegiatan musdes berlangsung sampai pukul lima.

Kegiatan musdes inilah awal saya menilai kepribadian temen-temen KKN.

Jam satu siang saya masih bercengkrama dengan Pak Carik, Sekdes, sembari menikmati kopi dan rokok, menghangatkan percakapan, menghalau dinginnya udara dan guyuran keras air pada batu setapak beranda rumah di musim hujan.

Setengah dua Pak Sutomo menjemput Pak Carik ke Musdes, Pak Carik berpesan supaya anak-anak KKN dapat menghadiri pula acara Musdes, sekaligus perkenalan kepada warga. Perkenalan KKN pun sudah diagendakan.

Sebenarnya undangan tanpa surat ini sejak hari kemaren udah disampaikan Pak Carik. Mendekati setengah dua, anak-anak belum juga bersiap-siap, mungkin karena hujan.

Saya pikir sekalian giring anak-anak cewek yang masih di kamar, biar segera ke posko cowok. Lima belas menit, mereka sudah siap.

Mereka nunggu yang cowok bener-bener siap. Saya tahu ini tugas Kormades, seharusnya. Barangkali dia tengah mengerjakan sesuatu dan lupa dengan undangan Musdes.

Saya mengirimkan sms ke Kormades : “Sekedar mengingatkan, undangan musdes jam 2. Harap siap2.”

Jam 2 lebih lima menit, saya bener-bener ke posko cowok, melihat kesiapan di sana. Sebenarnya hanya kesiapan memakai almamater dan niat berangkat menghadiri undangan.

Ternyata Doni alias kormadesnya itu, dan Aji sedang nonton video di laptop. Sedang afif di kamar. Alven, kormacam sedang pergi, sejak tadi pagi ngurus koordinasi KKN di kecamatan Kertanegara.

Ketika saya menghampiri, seperetinya tak pantas jika ditanyakan ulang kesiapan berangkat. Saya memakai almamater saja. Keluar dari kamar, Aji berseloroh, “Jadi berangkat Jang??”

Lha emang sms ku tadi belum nyampe Don?”

Hujan Jang..” Timpal Kormades.

Kita gak usah berangkat Musdes aja lah…ntar malam kan cewe-cewe juga ada pengajian di Kebon Dalem dekat rumah Pak Kades.” Tambahnya.

Berarti gak jadi berangkat nih?” Tanya saya.

Bukan begitu. Aku takutnya sakit lho..kasian.”

Kita diundang lho, kita baru di sini 3 hari, masak menolak undangan. Perkenalan KKN sudah diagendakan juga sama perangkat desa.”

Trus mau gimana lagi, hujan..”

Cewek-cewek udah siap lho, masa kita cowok-cowoknya begini?”

Bukan begitu, takutnya mereka sakit kan..ntar malem kan mereka harus ikut pengajian.” Timpal Doni seraya merubah posisi tiduran ke duduk.

Aji yang dari tadi asyik nonton juga, ikut duduk.

Oke, kalo emang mereka gak usah berangkat sekarang, kita yang berangkat untuk perkenalan di Musdes. Perwakilan saja.”

Afif keluar dari kamar, dan langsung menimpali. “Katanya kita perkenalan ya Jang?”

Saya gak menanggapi pertanyaan retorisnya.

Ya udah kita berangkat semua…” Kata Doni menimpali cepat.

Semua mata memandang ke Kormades.

Ya udah kita berangkat, semua.” Jawab Kormades sambil mematikan laptop.

Percakapan naif itu berlangsung 20 menit. Dan hujan pun reda. Cewek-cewek datang, mereka mengajak berangkat. “Kita udah terlambat ni, ayo berangkat…”

Kita gak usah berangkat aja lha ya?? Ntar sakit…cewek-cewek ntar malam kan harus pengajian juga. Gimana??” Kormades memberikan pernyataan sedikit bertanya.

Semua pada diam.

Hujannya reda.. Kita jalan kaki ajah, deket ini lah.. biar ada alasan juga telat.” Ulfa memotong kebisuan.

……….

……….

Agenda Musdes membahas PNPM Mandiri. Desa Kasih mendapat PNPM yang pertama kalinya dari pemerintah pusat. Rencananya, sumbangan PNPM akan disalurkan untuk pembangunan jalan desa. Perkenalan KKN ada di akhir agenda sebelum penutupan.

Disaksikan semua perangkat pemerintahan dari RT/RW sampai Kades hadir di situ. Inisiatif perangkat desa memilih perkenalan KKN pada acara itu memang tepat, kiranya.

……….

……….

Jam 8 malam lebih 10 menit.

Cewek-cewek gak jadi berangkat pengajian. Mereka semua di kamar. Entah karena apa, tapi Bu Sis tau, katanya mereka sakit. Inisiatif Alven ngajak saya ngasih keterangan sama Kades bahwa mereka sakit.

Aku baru hendak naik, dibonceng Alven. Doni berseloroh mengejar dari dalam rumah.

Ven mau ke mana?”

Bilang Pak Kades, anak cewek sakit.”

Ke Adiarsa jadi gak?”

Ya jadi abis ini.”

Cihuy..”

Ikut dulu apa sekarang ke Pak Kades?”

Gimana ya?”

Terserah…”

Ikut aja lah.. apa maning kowe kormadese.

Saya diam saja mendengar pembicaraan.

Akhirnya semua cowok ikut berangkat. Sayang, Pak Kades tidak ada di rumahnya.

Rasa penyesalan terlontar di mulut Kormades, “Ni gara-gara tadi siang, jadi cewek-cewek sakit..”

Udah lain kali kita gak usah memaksakan, akhirnya seperti ini.”

Saya mendengar semuanya dengan jelas. Tidak ada alasan cukup bagi dia untuk mengatakan itu dengan proses sampai dia ikut berangkat.

Masih kunikmati perkataannya, ketololan seorang kormades.

Kita pulang, dan saya mengurungkan niat ajakan Alven selaku Kormacam untuk ikut ke Adiarsa. Karena saya tidak punya kepentingan untuk itu. Lebih baik saya di Posko, setidaknya rumah Pak Baryadi yang ketempatan Posko cowok itu, tetap ada anak KKN-nya. Kita belum terlalu akrab dengan kebiasaan di rumah itu.

Saya bilang ke Alven aku turun saja ntar, ga ikut. Dia mengiyakan.

Di pertigaan dekat lapang Kasih, Alven berhenti, menunggu motor satunya yang di pakai bertiga.

Sampai motor yang dikendarai oleh Aji berhenti deket motor yang kami tunggangi, Alven menjelaskan maksud saya.

Aji mengiyakan.

Sebelum motor hendak melaju lagi, Doni berseloroh “Kamu ga jadi ikut Jang?”

Ni bocah budek apa ya??” Pikir saya dia begitu.

Kujawab saja dengan tegas, “Heu euh…”

Motor melaju sampai Posko. Dan saya turun. Doni sebagai Kormades meminta anak-anak yang lain juga turun dulu, seperti mau memberi instruksi.

Saya ke kamar kecil dulu, pipis.

Ketika saya hampiri, anak-anak sudah berkumpul di sofa ruang tamu. Segera Kormades meminta saya untuk duduk.

Saya duduk dan menunggu hal yang akan dibicarakan.

Saya kaget dengan kalimat pertama dia.

Jang, ira ada masalah ga dengan saya?” ucap Doni selaku kormades yang terkadang menggunakan panggilan orang kedua kamu dengan ira.

Lha, maksudnya??”

Tadi saya liat ira kayak marah gitu waktu ditanya ga jadi ikut ke Adiarsa.”

Ga tuh..kalo marah emang dari apa awalnya?”

Ya, maksud saya tadi waktu ngomong depan rumah Pak Kades itu bukan buat kamu. Nah saya kan jadi mikir, terus terang aja, saya ini orangnya selalu memikirkan apa yang sudah diucapkan, jangan-jangan tadi kamu tersinggung.”

Ini sebenernya aku yang punya masalah sama kamu atau kamu ngrasa aku bermasalah bagi kamu?”

Dia diam, kutanya balik dengan pertanyaan yang sama. Tetap tak dijawabnya.

Kamu sakit hati gak?? Kalo saya salah, saya minta maap.. Itu saja..”

Kan udah dijawab tadi juga. Ditanya balik malah kamu gak jawab. Jadi bener kan, kamu yang ngerasa aku masalah buat kamu?”

Gak…nggak..”

Kalo begitu saya tanya, kenapa mesti dibikin forum kayak gini??”

Saya lanjutkan keganjilan yang terbesit, “Coba, dengan otoritas sebagai kormades, bikin forum minta maap seperti ini. Untuk apa, heh? Kamu pikir dengan begini masalah tuntas, ketakutan kamu kalo anak-anak menilai kamu orang yang suka menyinggung trus selesai dengan citra kamu sebagai kormades yang cepat ngasih pernyataan maap?? Itu maksud kamu??”

Mana keikhlasan permintaan maap secara pribadi?? Ini kan urusan kamu dengan saya. Kenapa juga mesti melibatkan orang lain?? Gak etis kan??” Saya terus mempertanyakan.

Saya atas nama Dony Hananto, meminta maap kalo ada salah. Kita tetap sebagai teman..”

Lha itu kan soal gampang, dari awal juga kita semua teman, gak ada sangkut pautnya untuk memutus pertemanan kan?? Tadi masalah kamu sebagai kormades, makanya kamu memakai forum ini untuk minta maap. Sekarang kalo ngomongnya begitu, udah jelas kamu sebagai teman saya dan mau minta maap. Makanya saya tanya ulang, kenapa mesti dibikin forum begini??” saya menimpali.

Ini sebagai pembelajaran, karena kalo seandainya salah tindakan, akibatnya fatal kan?? Coba siapa yang akan menjamin besok, pernyataan kamu dan pernyataan aku menimpali ucapanmu di forum ini bener-bener tulus?? Cuma antara kita kan?”

Dia diam. Alven ikut menetralisir, “Saya sih bener-bener gak ngerti, ada apa sih ini??”

Tuh kan..emang gak pada ngerti??”

Kamu sebelum ngumpulin anak-anak, tadi di motor ngomong dulu gak sama Afif sama Aji, saya bermasalah??”

Ya nggak.”

So, jelas kan ini masalah pribadimu sama saya.. Ada apa Don? Kamu baru kenal saya kemarin, saya pun demikian.. Dengan begitu sekarang saya lebih jelas tau bagaimana kamu ini.”

Ya minta maklumnya. Jadi saya ini perasa Jang, jadi kalo abis ngomong ini-itu, saya suka mikir ulang, jangan-jangan tadi menyinggung gitu..jadi saya minta maap..”

Oke saya atas nama Dony Hananto, minta maap..” Ujarnya lagi

Minta maap, dan saya juga minta maap kalo belum bisa memaklumi, yang penting tidak diulangi saja kan?!” Timpal saya sambil menyodorkan berjabat tangan.

Oke, saya minta maap Jang..” Membalas jabatan tangan.

Akur tuh ceritanya… Pembicaraan memakan waktu dua jam kurang. Akhirnya semua tidak jadi berangkat ke Adiarsa.

Akhir pembicaraan dilanjutkan dengan pembicaraan kecil dari mulai aktivitas keseharian, kenal si ini-si itu, ngalor ngidul sampai membicarakan cewek. Sesekali saja saya ikut bicara, sekedar menjawab pertanyaan atau nimbrung menimpali.

Saya asyik dengan percakapan via sms dengan teman.

Kamu bohong lah Jang, kalo kamu gak aktif di mana pun di kampus.” Tanya Alven.

Dia sempai lho, jangan salah…” Ujar Doni.

Lha dia tau dari mana, pikirku. Dari awal pertemuan dengan anak-anak KKN saya gak pernah membeberkan aktivitas keseharian.

Lha kalo di kampus, apa Jang?” Tanya Aji.

Udah berenti sekarang.”

Dulu Memi juga kan ira, ya Jang?!” Timpal Doni yang sepertinya sudah tahu.

Ya..” saya mengiyakan..

Anak Memi tuh ada Novi ya, cakep banget gila..

Hmm..cakep ya Don??” Tanya saya mengulang..

Iya lah dia tampilannya seksi gitu , trus…halah… Kenangan yang tak tercapai lah.. Dia cakep banget tau..” Ujarnya sambil berseloroh gak berhenti terus pergi ke kamar.

Afif turut masuk kamar. Aji dan Alven keluar rumah, mau masukin motor ke rumah Pak Carik.

Forum bubar.

(4th Day)

Setengah enam pagi saya mau jalan-jalan keliling desa. Keluar rumah, kebeneran ketemu Ulfa. Dia pengin ikut juga, ya sudah diajakin aja semua…

Tapi yang ikut, Ria, Afif, dan Ulfa. Kita keliling Kebon Dalem saja, sekaligus ke rumah Pak Kades.

Tidak banyak yang dibicarakan. Setelah beberapa hari ketemu Pak Kades, terlebih pagi ini, nampak jelas bahwa dia cenderung pendiam. Sehingga setiap pembicaraan dengannya selalu lebih pasif.

Anak perempuan satu-satunya baru tiga minggu melahirkan putra keduanya. Lahir prematur, sama seperti anak pertamanya. Konon pernikahan Pak Kades dengan istrinya pun berturut-turut semua anaknya lahir prematur. Dan semuanya meninggal dunia, kecuali anak perempuannya yang sekarang memiliki suami dari desa yang sama namun kerja di Jakarta sebagai anggota Satpol PP. Pagi itu pun tidak sempat bertemu, karena dia sedang kerja.

Sekitar jam setengah delapan, kami pamit pulang. Tangan kami dibekali satu kerangjang rambutan yang diambil dari pohon depan rumahnya. Saat ini musim rambutan panen, hampir semua rumah punya pohon rambutan. Dan rambutan Pak Kades enak lho…huehuehue

Dari rumah Pak Kades, kita berkunjung ke rumah Pak Rusman. Dia tokoh pemuda, yang sekarang kondisinya sedang sakit. Urat saraf tangannya terjepit bambu ketika sedang memotong bambu di kebun belakang. Sudah tiga bulan tidak bisa beraktifitas normal, sekarang kondisinya udah agak membaik.

Istrinya, Ibu Purwanti menjabat Kaur Umum tengah keropotan menenangkan bayinya, yang lagi doyan kentut. Apr 06th by jeuz

05th

Get Married, Nirina !!

0

Ditulis Oleh : Jajang Yanuar Habib

get merried

Kita masih ingat tentunya, sosok kembang kampung gagah perkasa, bersahabat dengan tiga kecoa. Huehehehe…

Gara-garanya tiga makhluk tengil, yang dilakoni Agus Ringgo, Aming dan (hehe..lupa, satu lagi siapa ya?!), kecerdikannya mereka nyomot untung kalah sama bloonnya si Aming. Pengen untung malah buntung, tapi ujungnya untung lagi. Dasar pelem…

Pemuda tampan nan pemalu turunan wong sugih alias anu beunghar-beunghar yakni orang terpandang-kaya, setelah terprovokasi konco-konco geng yang doyan make cara Indonesia, menggempur pertahanan Hansip dihari kawin kepaksanya Agus sama Nirina (gara-gara ibu Nirina phobi anaknya gak laku-laku).

Berandal nunggang motor-motor gede ala Harley Davidson, nimpukkin pemuda kampung anak-anaknya engkong tukang warung jajanan kerupuk kemasan, pengecer minyak tanah, termasuk penganggurannya. Kampung luluh lantah, dan polisi tidak menggugat sutradaranya, karena tidak dilibatkan (hwakakakkk)…

Atau justru keganjilan pinggiran Ibu Kota, oleh Hanung Bramantyo ditampilkan tidak mampu mengakses komunikasi untuk urusan publik, dalam hal ini lapor polisi.

Atau justru tidak ada rencana sosial kritik demikian. Pasalnya, ujung-ujungnya pelem itu berakhir bahagia. Kembang kampung kawin sama orang kota yang kaya.

Tapi yang jelas karir Nirina Zubir semakin meroket setelahnya. Cewek kelahiran Maret 1980 itu, terpilih sebagai Pemeran Utama Wanita Terfavorit versi Indonesian Movie Award 2008.

Sukses jadi aktor, kini sukses juga dalam peran kehidupan. Atau yang sukses justru Ernest Cokelat??!! (Hualahhh dasar yang nulis cowok!!) Mereka melangsungkan akad nikah, hari minggu kemaren (5 April 2009) di rumah mereka, Perum Mediterania Cluster Diamond No. 80, Pos Pengumben, Jakarta Barat.

Hehehe…

Selamet ajah atas pernikahannya.. Nirina Raudatul Jannah Zubir dan Ernest Fardiyan Sjarif…

Dasar penulis blog sok tahu, saya sih cuma tahu dari berita kapanlagi.com yang sengaja saya berlangganan berita selebritis. Sebagai pemirsa televisi yang kurang baik, saya hanya menonton acara-acara tertentu. Kebetulan saja, saya suka sosok yang sering diperankan Nirina Zubir.

Buat Ernest, saya suka sentuhan gitar mu dalam lagu-lagu cokelat.

Bagaimanapun, itu talenta kalian dalam memproduksi karya… Semoga sukses slalu menjalani hidup di sentrum Indonesia… Saya berharap karya-karya kalian bermanfaat tidak sebatas hiburan saja…

Mari bangun bangsa lebih dewasa…

Apr 05th by jeuz

19th

Ibu Kota Lebih Kejam dari Ibu Kos

0

Oleh: Muhammad Nur Rohmi

Waktu itu, tahun 2007 baru dua hari berjalan. Dengan tas besar di punggung, sebagian pakaian kuangkut dari kamar kos ke Jakarta. Jakarta? Ini bukan cita-citaku. Jakarta kota yang paling kubenci di Indonesia Raya dan sekitarnya. Menurut Seno Gumira Ajidarma, tak ada orang baik di Jakarta. “Jika ada yang baik, jitak saja. Dia pasti berniat jahat,” tulis Seno dalam bukunya ‘Affair: Obrolan tentang Jakarta’.

Kala kuliah, aku berharap tak akan merantau ke Jakarta. Dalam benakku, Jakarta adalah  kota yang sesak nan riuh dan tak bersahabat. Setelah delapan bulan jadi wartawan media lokal di Purwokerto, aku diterima di media nasional. Awalnya hanya iseng. Namun justru dari yang iseng biasanya malah terwujud. Hingga pada hari kedua di tahun 2007 itu, kereta api Progo jurusan Yogyakarta-Jakarta membawaku.

Kereta penuh sesak dengan para pengejar mimpi. Penumpang selalu lebih banyak daripada jumlah kursi. Banyak penumpang yang tidur mendekap tas mereka. Seolah menyandarkan harap dan asa, yang tak didapatnya di kampung halaman, ke dalam tas itu.

Jakarta bagai magnet bagi orang-orang daerah. Namun tak hanya besi yang tersedot oleh magnet itu. Berbagai macam logam dan sampah tak mampu menolak sedotan kuat itu. Ini terjadi sejak jaman penjajahan Belanda. Batavia menarik bagi mereka yang putus asa dengan kampung mereka. Penyebab utama arus urbanisasi ini adalah ekonomi. Banyak mereka yang datang, tanpa pengetahuan soal sengkarut Jakarta.

Hari pertama masuk kerja, telat sejam. Dalihku, masih proses adaptasi di Jakarta. Orang kantor masih maklum. Hari kedua,  masih juga telat sejam. Dalihku masih sama,  proses adaptasi. Orang kantor juga masih maklum. Hari keempat, telat tiga jam. Dalihku masih sama,  karena proses adaptasi. Sayang, kali ini orang kantor tak bisa maklum. Ini perkenalan pertama dengan Jakarta; macet. Tiap hari usai subuh ribuan orang berbondong menyesaki jalanan. Bersama copet, pedagang di dalam bus dan kereta rel listrik, orang berebut tempat seperti mau hijrah ke pulau surga. Bangun siang hanya bisa dilakukan di hari libur. Tak seperti di Purwokerto, where every day is holiday.

Hari keempat, adegan laiknya film aksi mendebarkan terpampang di depan mata.  Bus Metromini yang kutumpangi srempetan dengan bus Kopaja. Bukannya berhenti dan mencari solusi atas srempetan itu, kedua bus itu justru kejar-kejaran dan saling tabrak. Penumpang kedua bus serasa dikocok gempa bumi amatiran. Penumpang menjerit. Sekitar satu kilometer beradu cepat dua bus itu lalu berhenti. “Semoga diselesaikan baik-baik,” kata seorang penumpang. Doa penumpang itu salah. Sopir dan kernet kedua bus itu justru adu bogem mentah di jalanan. Darah mengucur dari sopir Kopaja. Orang-orang cuma bisa menonton. Pemenang pergi melengang.

Lalu satu kali, hari Jumat, giliranku jadi korban. Di antara himpitan ketiak orang-orang di dalam KRL, dengan ajaib ponselku lenyap. Lalu di Jumat yang lain, pas sholat Jumat, perekam hasil gaji pertamaku hilang di Mahkamah Agung. Di bulan Juni tahun itu juga, segerombolan penjahat berhasil menggaet duit yang ada di dompetku. Duit yang rencananya buat bayar utang itu, dilarikan tiga penjahat. “Tak hanya ponsel, tape ataupun uang, di Jakarta iman dan keperjakaan bisa lenyap,” komentar seorang kawan.

Kejadian di atas tak mengenal musim. Kemarau atau penghujan sama saja. Hanya beda lokasi, pelaku dan korban. Persamaannya pada modus dan orientasi; uang. Jika datang musim penghujan, masalah lain yang akan datang, yakni banjir.

Berdasar catatan, banjir besar Jakarta pertama terjadi pada tahun 1621. Harap maklum, pasalnya ketinggian rata-rata tanahnya hanya 8 meter di atas permukaan laut. Selain itu, ada 13 sungai yang membentang di Jakarta. Sungai-sungai tersebut tak berbentuk garis lurus, namun berkelok. Kali Ciliwung misalnya, membentang sejauh 119  kilometer dari Puncak Bogor hingga pantai utara Jakarta. Sebenarnya, jika ditarik garis lurus dari sumber ke muaranya, panjangnya hanya sepertiganya. Kondisi berkelok salah satu penyebab banjir, selain karena pendangkalan sungai dan minimnya daerah penyerapan air. Daerah sekitar kelokan itu biasanya langganan banjir. Contohnya, Kampung Pulo Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan yang berada di tikungan kali Ciliwung.

Selain banjir, kecelakaan lalu lintas, kebakaran dan demonstrasi adalah sangat biasa. Hampir setiap hari selalu ada sirene meraung-raung di jalanan. Biasanya hanya ada tiga macam; kebakaran, pejabat lewat atau korban lalu lintas yang kritis.

Daerah yang sering terbakar adalah Tambora, Jakarta Barat. Ini adalah daerah terpadat di Asia Tenggara. Rata-rata kepadatan penduduknya 1.500 jiwa per hektar. Jauh dari angka normal, 200 jiwa per hektar. Kebakaran sering karena listrik yang kongslet. Maklum, pemukiman sangat padat itu sambungan kabel listrik antah berantah hingga sering kongslet. Hingga seringnya terbakar, sering muncul pertanyaan pakah kebakaran itu murni kecelakaan atau disengaja? Gampang saja menilainya, jika sumber api lebih dari satu, sudah pasti kebakaran itu disengaja. Motifnya bisa beragam.

Tambora letaknya lumayan dekat dengan daerah pecinan (Glodok). Banyak yang meyakini daerah itu ada bagian dari kepala naga, yang secara feng shui baik untuk tempat tinggal. Banyak penduduk bertumpuk di daerah itu sebelum Indonesia merdeka.

Daerah Glodok dan Kota, adalah wajah lama Jakarta. Kota ini berkembang, ke arah Bekasi (timur), Tangerang (Barat) serta Depok dan Bogor (selatan). Secara administratif, luas Jakarta separuh dari luas Kabupaten Banyumas. Bedanya, Jakarta semuanya padat penduduk. Selain itu, iklim Jakarta panas dan kering dengan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 25°-38°C. Bandingkan dengan Banyumas, yang beriklim tropis basah dengan suhu antara  21° C - 31° C.

Perkembangan Jakarta ini membuat Jakarta bukan cuma kota metropolitan. Sejak Agustus tahun lalu Jakarta sudah jadi Megapolitan bersama Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Konsekuensinya kota-kota itu tak seenaknya membangun wilayahnya tanpa koordinasi.  Pembangunan itu terkait dengan arus lalu lintas, tata kota, drainase dan ruang terbuka hijau yang kian parah.

Hingga parahnya, Jakarta diramalkan akan sejajar dengan air laut pada tahun 2012. Ini bukan gosip semata. Permukaan tanah jakarta, tiap tahun turun sekitar 10 cm. Satu diantara penyebab utama turunnya tanah Jakarta adalah pembangunan gedung-gedung tinggi. Semakin tinggi gedung, semakin dalam pondasinya. Karena makin dalam, air tanah juga ikut disedot. Kian lama, tanah makin mampat dan turun. Hingga akhirnya ketinggian tanah sejajar dengan permukaan air laut. Indikasinya mudah, air tanah sudah tercampur dengan air laut. Air tanah yang sudah asin ini kini sudah mencapai daerah Setiabudi, Jakarta Selatan. Padahal, laut ada di Jakarta Utara.

Daerah Setiabudi merupakan salah satu pusat perkantoran dan pemerintahan Indonesia Raya. Walau demikian, sisi ketertinggalan juga ada di Jakarta. Daerah Jakarta Timur dan Utara cenderung tertinggal dibanding Jakarta Pusat dan Selatan. Di daerah Ujung Menteng, Jakarta Timur angkutan bak terbuka dengan plat hitam masih ada tahun 2009 ini. Kondisi ini tak beda di Batur Sari, Pemalang lima tahun lalu. Bahkan, ada seorang pejabat tak tahu kalau daerah itu masuk Jakarta. Beberapa orang betawi juga tak mengenyam pembangunan. Ada yang ke Monas hanya lima tahun sekali, pas kampanye parpol saja. Bahkan ada seorang penduduk Pondok Labu, Jakarta selatan yang seumur hidupnya hanya melihat Monas dari kalender ataupun  televisi.

Banyak orang yang lahir dan besar di Jakarta namun tak kenal dengan kampungnya sendiri. Tersesat adalah hal yang amat wajar. Tak hanya pendatang, seorang teman yang lahir dan besar di Jakarta, sering tersesat di Jakarta. Jika anda bertanya soal jalan atau angkutan, banyak orang yang geleng kepala ketika ditanya. Cara paling efektif adalah bertanya kepada orang yang tepat; tukang ojek.

Ojek adalah hal yang mudah diketahui. Kalau anda lihat seorang pengendara motor dengan dua helm, 90 persen dipastikan dia tukang ojek.  Namun, ojek pula yang turut menyumbang kemacetan di jalan. Hingga tahun 2005, jumlah kendaraan di Jakarta mencapai 5,8 juta. Pertumbuhan kendaraan di Jakarta setiap tahun rata-rata mencapai 11 persen. Sedangkan pertambahan ruas jalan tidak lebih dari satu persen. Itu pun ruas jalan yang baru dibangun berupa jembatan layang (flyover) dan terowongan (underpass). Prediksinya, 2014 lalu lintas Jakarta macet total.

Soal tempat tinggal,  sudah tentu hal yang mahal. Di daerah Rasuna, Jakarta Selatan, beberapa pemilik tanah enggan menjual tanahnya walau ditawar tujuh juta rupiah per meter. Mereka ingin harga dua kali lipatnya. Maklum, daerah itu lagi dibangun superblok, kawasan terpadu alias kota dalam kota.

Superblok ini banyak mulai marak dibangun. Di dekat kantor, sudah menjulang Pakubuwono Residence. Kini, sedang dibangun Gandaria City. Tapi itu bukan tempat saya berdiam. Saya, masih saja mengontrak di Kebayoran Lama. Biaya kontrakan tentu berbeda kelas apartemen. Tapi, yang pasti, harganya lebih ‘kejam’ dari pada kos-kosan di Sumampir. []

Penulis adalah seorang wartawan, tinggal dan kerja di Jakarta.

Mar 19th by firdaus